![]() |
|
|
|
| Waktu: Selasa, Rabu dan Kamis |
![]() |
| Kelas dimulai pukul 18.00 WIB sampai dengan pukul 21.00 WIB. | |
Perkembangan properti komersial di kota-kota besar di Indonesia semakin menjamur terutama untuk pembangunan shooping center (pusat perbelanjaan), keberadaan pusat perbelanjaan merupakan dorongan dari trend gaya hidup masyarakat perkotaan yang kian berkembang. Perkembangan pusat perbelanjaan kini semakin atraktif, banyak hal serta aktivitas yang disajikan di dalam pusat perbelanjaan tersebut, sehingga tak heran beberapa pusat perbelanjaan memiliki strategi untuk menarik pengunjung yang berbeda-beda. Sebetulnya banyak hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan suatu pusat perbelanjaan, mulai dari konsep hingga penempatan tenant haruslah menjadi perhatian serius. Banyak hal yang dapat menjadi kunci dalam menarik pengunjung serta menarik para calon penyewa atau pembeli dari space kios atau toko yang ditawarkan.
Dalam tulisan ini penulis mencoba mengupas beberapa hal mengenai shooping center (pusat perbelanjaan), karena dewasa ini semakin banyak bermunculan berbagai macam pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia, pusat perbelanjaan yang muncul kondisinya pun kian bermacam-macam ada ramai dikunjungi oleh pengunjung bahkan ada juga pusat perbelanjaan yang kurang diminati tenant sehingga menyebabkan sepi pengunjung.
Pengertian Shooping Center (Pusat Perbelanjaan)
Pengertian dari shooping center (pusat perbelanjaan) adalah sebuah kelompok unit-unit komersial yang secara arsitektual menyatu, yang dibangun diatas sebuah lahan yang terencana, dikembangkan, dimiliki dan dikelola sebagai suatu unit operasi yang berhubungan dengan lokasi, ukuran dan tipe toko-toko untuk daerah tempat ia berada.

Klasifikasi Pusat Perbelanjaan
Berdasarkan Klasifikasinya shooping center (Pusat Perbelanjaan) dapat dikelompokan dalam beberapa kelas, yaitu :

Beberapa Konsep Pusat Perbelanjaan
Kini semakin banyak pengembang (Developer) yang membangun pusat perbelanjaan terutama di kota-kota besar di Indonesia. Konsep yang diterapkan pun bermacam-macam untuk dapat menarik pengunjung, namun sebetulnya apa saja konsep dari suatu pusat perbelanjaan yang dapat diterapkan ?. Ada beberapa konsep pusat perbelanjaan yang kiranya perlu kita ketahui, sehingga kita paham mengenai konsep-konsep tersebut, beberapa diantaranya, yaitu :
1). Konsep Mall
Konsep ini banyak terlihat sekarang ini dan sering kali dijadikan istilah pada suatu pusat perbelanjaan, Konsep ini sebetulnya memiliki beberapa karakteristik :
a). Koridor utama dipersiapkan menjadi jalur traffic, karena menghubungkan dua pusat kegiatan atau magnet yang sering disebut anchor.
b). Untuk bangunan pada umumnya hanya terdiri dari 3 lantai, dengan suasana interior dengan landscape yang menarik dan menyegarkan suasana namun kini jumlah lantai bisa lebih dari 3 lantai.
c). Aliran pengunjung harus dapat melewati bagian depan dari toko-toko yang berada di bangunan tersebut.
d). Pintu masuk dan keluar mall harus terpisah, agar tidak monoton dan agar dapat mencapai seluruh bagian mall.
e). Harus ada ruangan yang bervariasi dan menarik, antara lain seperti taman dengan tempat duduk untuk bersantai, patung-patung, air mancur dan lain sebagainya.
f). Penempatan dan pengelompokan penyewa utama dan penyewa lainnya diatur sedemikian rupa sehingga apa yang diinginkan oleh para penyewa dapat terwujud.
g). Jarak antara penyewa-penyewa utama, maksimum 200 m sampai dengan 250 m, agar para pengunjung yang datang tidak merasa lelah.
h). Lebar mall utama minimal 15 m, sedangkan pada mall bercabang minimal 6m sampai dengan 7m.
2). Konsep Plaza
Sebetulnya Plaza sama artinya dengan Piaza, berasal dari bahasa Italia, yang berarti ruang terbuka sebagai tempat berkumpul, bersosialisasi. Konsep ini banyak diterapkan di kota-kota lama seperti ; Roma, Paris, Florenz, dan lain sebagainya. Penggunaan istilah plaza banyak digunakan pada pusat perbelanjaan, karena kesan dari shooping center yang muncul kini adalah sebagai tempat untuk berkumpul maupun bersosialisasi masyarakat dan keluarga. Maka istilah ini kerap digunakan pada penamaan suatu shooping center.
3). Atrium
Atrium sebenarnya bukanlah suatu istilah dari pusat perbelanjaan, melainkan konsep arsitektur dari suatu bangunan. Yaitu suatu bangunan yang mempunyai ruangan terbuka dalam skala besar yang dapat dilihat dari seluruh bagian bangunan tersebut. Dalam wujud fisik sebetulnya atrium digambarkan sebagai ruang tertutup, beratap transparan, serta berdimensi besar yang dapat meneruskan udara luar dan sinar matahari ke dalam ruangan. Kini banyak shooping center yang mendesain bangunannya sesuai dengan konsep tersebut namun dikombinasikan dengan beberapa konsep arsitektural lain.
Interior Features dalam Shoping Center
Dalam suatu pusat perbelanjaan (shooping center) biasanya ada fitur-fitur yang khas yang wajib dimiliki, yaitu :
1. Adanya ruang yang disewakan
2. Penampilan bentuk muka toko harus dibuat menarik
3. Tersedianya basement untuk parkir bagi pengunjung
4. Adanya Interior wall yang menarik, bisa berupa fotowalk seperti yang terdapat di konektor Mal Kelapa Gading dengan La Piazza

Key Sucess Factor Shopping Center / Retail :
Agar suatu pusat perbelanjaan atau retail dapat menjadi daya tarik bagai para pengunjung dan penyewa (Tenant) ada beberapa kunci utama yang perlu diperhatikan oleh para pengembang maupun pengelola pusat perbelanjaan ataupun retail, yaitu :
1. Lokasi
Bila suatu shopping mall diletakan pada lokasi yang tepat, maka akan membantu keberlangsungan mall tersebut. Membangun mall pada lokasi yang tidak tepat akan membuat mall menjadi sepi dan dapat menimbulkan kerugian pada pengembang.
2. Luasan
Luas keseluruhan bangunan shooping center dapat menjadi salah satu daya tarik suatu shooping center, contohnya seperti Mall Taman Anggrek, yang dulu pernah dikatakan sebagai mall terbesar di Asia Tenggara.pada saat awal pembukaan banyak pengunjung yang berdatangan.
3. Image (brand)
Image pengembang dan image dari shooping center itu sendiri dapat mempengaruhi sukses atau tidaknya suatu shooping center. Seperti PS, PI, EX, PIM, dll, sudah memiliki image tersendiri bagi masyarakat, sehingga kemunculan PIM 2 sangat tergantung pada respon masyarakat terhadap keberadaan PIM 1.
4. Menambah jenis usaha
Dengan menambah jenis usaha yang terdpaat pada suatu shooping center, dapat menawarkan berbagai pilihan kepada pengunjung. Penambahan jenis usaha berkaitan erat dengan luasan dari suatu shooping center. Semakin luas suatu shooping center, semakin besar pula penambahan jenis usahanya.
5. Suasana
Suasana merupakan suatu kunci yang dapat mempengaruhi sukses atau tidaknya suatu shooping center. Suasana dapat tercipta dengan sendirinya melalui penataan toko-toko maupun kios-kios di shooping center. Selain tempat berbelanja, shooping centerdapat juga menawarkan hiburan, berupa panggung hidup, serta latar yang menarik. Suasana yang baik serta atraktif dapat mendukung kesuksesan suatu shopping center. Contohnya : EX, dan Kelapa Gading Mall dengan La Piazza.
6. Anchor Tenant
Pemilihan anchor tenant yang tepat dapat menjadi kunci kesuksesan suatu shooping center. anchor tenant dapat membantu menarik pengunjung. Bila anchor tenant yang ada sesuai dengan target market dari shooping center yang bersangkutan, maka akan menarik pengunjung, demikian pula sebaliknya, bila anchor tenant yang ada tidak sesuai dengan target market, maka shooping center yang bersangkutan akan sepi pengunjung.
Tenant (penyewa) adalah kunci bagi shooping center. Kesalahan pemilihan tenant bisa menyebabkan shooping center tersebut gagal. Salah satu hal yang menjadikan shooping center dapat berhasil adalah jika mampu memilih dan menempatkan anchor tenant maupun tenant dengan tepat. Contoh jika pemilihan dan penempatan anchor tenant/tenant dapat dilakukan dengan tepat maka akan menghasilkan EFEK PIMPONG.

Disamping itu pengembang ataupun pengelola pusat perbelanjaan perlu memperhatikan strategi dalam Tenant Mix (Percampuran penyewa), hal tersebut mencakup strategi penentuan jumlah tenant, jenis tenant, komposisi, dan penempatan dari tenant-tenant.
7. Fasilitas
Fasilitas yang disediakan pada suatu shopping center berperan dalam menarik pengunjung. Fasilitas tambahan seperti yang terdapat di Plaza Semanggi dengan Balai Sarbininya, dapat membantu dalam menarik pengunjung.
8. Pusat perbelanjaan menggunakan konsep “One Stopped Shopping”.
Dari konsep ini diharapkan semua kebutuhan pengunjung dapat terpenuhi di tempat itu, mulai dari kebutuhan sehari-hari, kebutuhan rumah tangga untuk orang dewasa dan anak-anak serta fasilitas makanan, minuman sambil menikmati sarana hiburan dan rekreasi.
9. Pusat perbelanjaan biasanya menggunakan konsep “Single Corridor”
Dengan konsep ini semua penyewa mendapat kesempatan yang sama untuk dikunjungi selain itu hubungan dari toko yang satu dengan yang lain mudah untuk dicapai.
Dari beberapa uraian diatas maka kiranya para pengembang maupun pengelola pusat perbelanjaan modern seperti Mall dapat memperhatikan hal-hal yang menjadi kunci utama dari kesuksesan suatu pusat perbelanjaan modern. Banyak hal yang dapat dibenahi dan ditingkatkan dari pengembangan ataupun pengelolaan suatu shooping center agar dapat menarik pengunjung ataupun penyewa (tenant) yang akan menyewa ruang dari shooping center tersebut, untuk menjual produknya. semakin tempat itu menarik dan lokasinya strategis maka semakin banyak pengujung yang akan datang.
(M.Grahandaka/MG/vbn)
Foto : commons.wikimedia.org